Jumat, 18 Agustus 2017

Capability Level Dalam ISO 15504



Capability level merupakan gambaran tingkat kemampuan TI suatu organisasi. ISO 15504 memberikan informasi dan konsep secara umum Capability level IT. menurut ISO 115504 Capability didefinisikan kedalam 6 skala ordinal seperti pada gambar berikut:

Gambar II. 6 Skala pengukuran Capability Level (ISACA, 2015)


a.       Level 0: Incomplete process
Proses TI tidak di implementasikan atau gagal mencapai tujuan.
b.      Level 1: Performed process
Proses telah di implementasikan dan mencapai tujuan proses.
c.       Level 2: Managed process
Proses yang telah di implementasikan harus dikelola ( perencanaan, monitoring dan penerapan) serta hasil dari proses dikontrol dan dipelihara dengan baik.
d.      Level 3: Established process
Proses TI telah terdefinisi dan terstandarisasi dengan baik.
e.       Level 4 : Predictable
Proses TI dilakukan secara konsisten dengan batasan yang telah ditentukan.
f.        Level 5 : Optimizing
Proses TI ditingkatkan secara berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan bisnis saat ini dan masa akan datang.

Menurut ISO 15505 Ketercapaian setiap level dilihat dari ketercapaian setiap proses atribut (PA) yang dimiliki, adapun atribut pada setiap level adalah sebagai berikut:

1.      Level 1: Performed process
a.      PA 1.1 Process performance attribute 
Process performance attribute merupakan pengukuran yang dilihat dari tingkat pencapaian tujuan dari proses.

2.      Level 2: Managed process
a.       PA 2.1 Performance management attribute
Performance management attribute merupakan pengukuran yang dilihat dari pengaturan performansi proses.
b.      PA 2.2 Work product management attribute
Pengukuranya dilihat dari hasil yang di atur dengan baik.

3.      Level 3: Established process
a.       PA 3.1 Process definition attribute
Proses atribut yang mengukur tinggat standar proses untuk mendukung penerapan proses yang telah didefinisikan.
b.      PA 3.2 Process deployment attribute
Process deployment attribute diukur dari efektifiatas penerapan standar            proses yang telah didefinisikan untuk mencapai keluaran proses.

4.      Level 4: Predictable process
a.       PA 4.1 Process measurement attribute
Adanya tingkat pengukuran hasil yang digunakan untuk memastikan performansi proses agar mendukung pencapaian objektif yang telah didefinisikan pada tujuan bisnis.
b.      PA 4.2 Process control attribute
Proses kontrol atribut adalah pengukuran sejauh mana proses secara kuantitatif berhasil menghasilkan sebuah proses yang stabil, mampu, dan dapat diprediksi dalam batas-batas yang ditentukan.

5.      Level 5: Optimizing process
a.       PA 5.1 Process innovation attribute
Process innovation attribute adalah ukuran sejauh mana perubahan pada proses diidentifikasi dari analisis penyebab umum dari variasi dalam kinerja, dan dari penyelidikan pendekatan inovatif untuk definisi dan deployment proses.
b.      PA 5.2 Process optimization attribute
Process optimization attribute adalah ukuran sejauh mana perubahan terdefinisi, manajemen dan performansi dari hasil proses yang berdampak efektif untuk mencapai tujuan perbaikan proses yang relevan.


Dengan mengetahui tingkat kemampuan IT suatu organisasi, maka akan mempermudah dalam menentukan arah kebijakan IT organisasi, sehingga pengelolaan IT yang efektif dan efisien akan terwujud.

Sumber :
ISO/IEC. (2003). ISO/IEC 15504-Software engineering -Process assessment- Part 2 : Performing an assessment. Switzerland: ISO/IEC.
ISO/IEC. (2012). ISO/IEC 15504- Information technology - Process assessment - Part 8 : An exemplar process assessment model for IT service management. Switzerland: ISO/IEC. 


Ditulis oleh:
Arrazaq Zakaria S.Kom
Junior Consultant
Smartpro Solusi

Minggu, 06 Agustus 2017

Apa Itu TOGAF ADM? Apa Kegunaannya?


Pada saat ini seriring dengan perkembangan teknologi yang pesat, teknologi informasi sudah digunakan secara luas. Sudah banyak institusi ataupun perusahaan yang menggantungkan proses bisnisnya pada penggunaan teknologi informasi, hal ini dikarenakan teknologi  informasi bukan lagi sebagai pendukung melainkan sebagai kebutuhan. Dengan adanya teknologi informasi diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pada proses bisnis perusahaan dan dapat melakukan investasi untuk jangka ke depan.

Salah satu faktor utama pemanfaatan teknologi informasi pada perusahaan atau institusi adalah karena semakin berkembangnya proses bisnis yang ada membutuhkan pengembangan teknologi informasi juga. Dengan adanya keselarasan antara proses bisnis yang ada dengan perkembangan teknologi informasi diharapkan institusi atau perusahaan dapat mewujudkan tujuannya. Untuk mensinergikan proses bisnis dengan teknologi ingormasi maka peru adanya Enterprise Architecture.

Enterprise Architectute mengandung arti perencanaan, pengkalsifikasian, pendefinisian dan rancangan konektifitas dari berbagai kompomnen yang menyusun suatu enterprise yang diwujudkan dalam bentuk model dan gambar serta memiliki komponen utama yaitu arsitektur bisnis, arsitektur data, arsitektur aplikasi dan arsitektur teknologi. Terdapat beberapa manfaat yang didapatkan dalam membangun Enterprise Architecture, antara lain:

1. Memperlancar Proses Bisnis
Keuntungan dasar dalam membangun sebuah enterprise architecture adalah untuk menemukan dan mengurangi pengulangan pada proses bisnis. Penyebab pengulangan ini dikarenakan pandangan organisasi yang berbeda-beda pada data atau proses bisnis. Pendekatan dasar untuk membangun enterprise architecture adalah memfokuskan pada data dan proses.

2. Mengurangi Kerumitan Sistem Informasi
Suatu kerangka kerja mengurangi kerumitan sistem informasi. Hal itu dicapai melalui suatu proses identifikasi.

3. Memungkinkan Integrasi Melalui Data Sharing
Enterprise Architecture mengidentifikasikan standar data untuk digunakan bersama (share). Contoh kebanyakan perusahaan mempunyai data pelanggan dan data pasar, tetapi data tersebut tersimpan dalam basis data yang berbeda beda. Enterprise Architecture membentuk kompatibilitas dari data yang digunakan (share) tersebut. Kompatibilitas data menyediakan suatu data standar yang disimpan pada data warehouse untuk riset dan analisis pasar. Suatu rancangan arsitektur yang baik tidak hanya memperlancar value chain perusahaan, tetapi juga dapat menyediakan infrastuktur yang diperlukan untuk menghubungkan value chain antar perusahaan.

4. Mempercepat Evolusi Teknologi Baru
Teknologi client/server berkisar pada pemahaman data dan proses yang membentuk dan mengaksesnya. Selama Enterprise Architecture distrukturkan berdasarkan data dan proses serta tidak adanya pengulangan pada sesuatu yang sama, maka teknologi client/server dapat berjalan dengan baik dalam suatu sistem informasi di suatu perusahaan/institusi.

Dalam merancang Enterprise Architecture dibutuhkan sebuah framework, salah satu framework yang di gunakan untuk merancang Enterprise Architecture adalah TOGAF. TOGAF (The Open Group Architecture Framework) adalah framework yang memberikan pendekatan komprehensif untuk merancang, merencanakan, melaksanakan dan mengelola Enterprise Architecture. TOGAF digunakan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, dan dalam perkembangannya TOGAF digunakan pada bidang perbankkan, industri, manufaktur dan pendidikan.

TOGAF-ADM merupakan metodologi lojik dari TOGAF yang terdiri dari beberapa tahapan untuk mengembangkan dan memelihara technical architecture dari organisasi. ADM membentuk iteratif untuk keseluruhan proses antar dan tiap fase sehingga pada tiap iterasi diambil sebuah keputusan baru yang dapat menentukan luas cakupan enterprise, level kerincian, serta target waktu yang ingin dicapai. Berikut ini adalah tahapan dari TOGAF ADM:


1. Peliminary Phase
Fase ini mencakup aktivitas persiapan untuk menyusun kapabilitas arsitektur termasuk customization TOGAF dan mendefinisikan prinsip-prinsip arsitektur. Tujuan fase ini  adalah untuk menyakinkan setiap orang yang terlibat di dalamnya bahwa pendekatan ini untuk mensukseskan proses arsitektur. Pada fase ini harus menspesifikasikan who, what,  why, when, dan where dari arsitektur itu sendiri.

2. Architecture Vision
Fase ini merupakan fase inisiasi dari siklus pengembangan arsitektur yang mencakup pendefinisian ruang lingkup, identifikasi stakeholders, penyusunan visi arsitektur, dan pengajuan persetujuan untuk memulai pengembangan arsitektur.

3. Business Architecture
Fase ini mencakup pengembangan arsitektur bisnis untuk mendukung visi arsitektur yang telah disepakati. Pada tahap ini tools  dan  metode  umum untuk pemodelan seperti: Integration DEFinition (IDEF) dan  Unified Modeling Language  (UML) bisa digunakan untuk membangun model yang diperlukan.

4. Information System Architecture
 Pada tahapan ini lebih menekankan pada aktivitas bagaimana arsitektur sistem informasi dikembangkan. Pendefinisian arsitektur sistem informasi dalam tahapan ini meliputi arsitektur data dan arsitektur aplikasi yang akan digunakan oleh organisasi. Arsitektur data lebih memfokuskan pada bagaimana data digunakan untuk kebutuhan fungsi bisnis, proses, dan layanan. Teknik yang bisa digunakan dengan yaitu:  ER-Diagram,  Class Diagram, dan  Object Diagram.

5. Technology Architecture
Membangun arsitektur teknologi yang diinginkan, dimulai dari penentuan jenis kandidat teknologi yang diperlukan dengan menggunakan  Technology Portfolio Catalog yang meliputi perangkat lunak dan perangkat keras. Dalam tahapan ini juga mempertimbangkan alternatif-alternatif yang diperlukan dalam pemilihan teknologi.

6. Opportunities and Solution
Pada tahap ini akan dievaluasi model yang telah dibangun untuk arsitektur saat ini dan tujuan, identifikasi proyek utama yang akan dilaksanakan untuk mengimplementasikan arsitektur tujuan dan klasifikasikan sebagai pengembangan baru atau penggunaan kembali sistem yang sudah ada. Pada fase ini juga akan di-review gap analysis yang sudah dilaksanakan pada fase Technology Architecture.

7. Migration and Planning
Pada fase ini akan dilakukan analisis resiko dan biaya. Tujuan dari fase ini adalah untuk memilih proyek implementasi yang bervariasi menjadi urutan prioritas. Aktivitas mencakup penafsiran ketergantungan, biaya, manfaat dari proyek migrasi yang bervariasi. Daftar prioritas akan berjalan untuk membentuk dasar dari perencanaan implementasi detail dan rencana migrasi.

8. Implementation Governance
Fase ini mencakup pengawasan terhadap implementasi arsitektur.

9. Architecture Change Management
Fase ini mencakup penyusunan prosedur-prosedur untuk mengelola perubahan ke arsitektur yang baru. Pada fase ini akan diuraikan penggerak perubahan dan bagaimana manajemen perubahan tersebut, dari pemeliharaan sederhana sampai perancangan kembali arsitektur.

10. Requirement Mangement
Melalui proses pengelolaan architecture requirements sepanjang siklus ADM berlangsung. (MA/GF)


Sumber:Armata, L. (2003). Prix de la Fondation Monique et Robert Parizeau 2002. Québec : Musée national des beaux-arts du Québec.
Katili EA. 2004. Pengembangan Arsitektur Informasi Perusahaan Aspek Fungsi, Jaringan, Motivasi, AJB Bumi Putera 1912 [Tesis], Bandung: ITB, Hal 9.
TOGAF. (2009). The Open Group Architecture Framework (TOGAF). Van Haren Publishing.


Ditulis oleh:
Galih Fathoni S.Kom
Junior Consultant
Smartpro Solusi

Kamis, 20 Juli 2017

Larry Ellison: "Sukses Itu Hak Siapa Saja!"


Lawrence (Larry) Ellison adalah pendiri Oracle, perusahaan pembuat software terbesar kedua dunia saat ini. Seperti pengusaha di bidang teknologi informasi lainnya yang kebanyakan drop-out perguruan tinggi, Larry pun demikian. Ia keluar dari University of Illinois pada tahun kedua kuliah. Setelah itu ia membangun kariernya sebagai ahli data system. Ia tertarik mendirikan Oracle pada tahun 1977 setelah terinspirasi dari paper karya Edgar F. Codd mengenai database system berjudul “Relational Model of Data for Large Shared Data Banks.”

Ketika pertama kali mengetahui bahwa kedua orang tuanya bukanlah orang tua kandungnya, Larry merasa hidup terlalu kejam padanya. Layaknya bocah 12 tahun lainnya, ia menanggapinya dengan perasaan kecewa yang mendalam. Kehidupannya, yang bisa dibilang jauh dari memuaskan, membuat jiwa pemberontak tumbuh di dalam dirinya. Larry tidak sadar, bahwa kerasnya kehidupan yang ia rasakan kelak akan menempanya menjadi salah satu orang paling sukses didunia.

Dibesarkan Orangtua Angkat

Berdarah Yahudi, Lawrence Joseph Ellison lahir pada 17 Agustus 1944 di Bronx, New York. Ibunya, Florence Spellman, saat itu baru berusia 19 tahun dan belum menikah. Siapa ayahnya hingga kini masih menjadi misteri. Pada usia 9 bulan, Larry terkena penyakit pneumonia. Ia lalu diserahkan pada bibinya di Chigago untuk diadopsi.

Maka sejak saat itu, Larry dibesarkan oleh Lilian Spellman Ellison dan suaminya, Louis Ellison. Dari kedua orang tua angkatnya inilah Larry memperoleh nama Ellison. Mereka tinggal disebuah apartemen sederhana di South Shore, Chigago, di mana banyak keturunan Yahudi kelas menengah ke bawah tinggal.
Larry kecil, meskipun menyimpan jiwa pemberontak didalam dirinya, dia adalah anak yang cerdas. Ia terutama sekali menyukai pelajaran matematika dan ilmu pasti. Ketika berumur 12 tahun, ia baru mengetahui bahwa ia bukanlah anak kandung keluarga Ellison. Hal ini cukup membuatnya menyerah, tapi ia tidak menyerah.

Setelah lulus SMA, Larry melanjutkan kuliah di fakultas Fisika Universita Illinois, Urbana, Champaign. Larry mengingat ibu angkatnya sebagai sosok yang hangat dan penuh cinta. Sebaliknya, ayah angkatnya memiliki sifat yang keras, kurang mendukung dan tidak ramah. Peruntungan Larry berubah ketika ibu angkatnya meninggal. Selama ini, ibu angkatnya inilah yang menjadi sandaran ekonomi keluarga mereka. Akibatnya, Larry terpaksa berhenti kuliah pada akhir tahun kedua masa studinya. Meski begitu ia sempat menyabet penghargaan sebagai Science Student of The Year.
Larry Ellison lalu memutuskan untuk mencari pekerjaan untuk kehidupan dia dan ayahnya. Segala macam pekerjaan dilakoninya. Sisa dari penghasilan, sedikit demi sedikit ditabungnya. Ia memiliki impian, suatu waktu nanti dapat melanjutkan kuliahnya dengan biaya sendiri.
Setelah tabungannya terkumpul agak banyak, Larry mendaftar pada Univeritas Chigago. Hanya satu semester ia kuliah. Rupanya dana yang dimiliki Larry tidak cukup untuk membiayai semua kebutuhan pendidikannya. Ia pun lalu keluar dari tempat itu, lagi-lagi karena terkendala masalah dana.

Menerjuni Dunia Komputer

Ayahnya yang memang dikenal sebagai sosok yang kurang mendukung, meyakinkan Larry bahwa ia tidak dapat berbuat apapun untuk hidupnya. Larry tidak putus asa. Kata-kata ayahnya ini justru dijadikannya cambuk untuk memilih nasibnya sendiri. Larry ingin memberikan bukti pada ayahnya bahwa ia bukanlah seperti yang ayahnya kira.

Sebagai pengganti kuliahnya, Larry memilih mengambil kursus komputer dengan biaya relative murah. Ia bekerja di departemen store untuk membiayai hidupnya dan juga kursusnya. Di tempat kursus inilah ia mulai menumbuhkan kecintaannya terhadap dunia komputer.
Membangun Oracle
Setelah selesai kursus, Larry memutuskan pindah ke Berkeley, California. Dengan membawa sedikit uang, hanya cukup untuk membeli fast food, ia bertekad memperoleh penghidupan yang lebih layak, Bermodalkan ijasah kursusnya, selama delapan tahun berikutnya Larry terus berpindah-pindah kerja. Awalnya, ia bekerja sebagai teknisi computer di Fireman’s Fund. lalu bekerja di Bank Wells Fargo, juga sebagai teknisi komputer.

Karier Larry baru benar benar berkembang setelah ia bekerja di Ampex sebagai programmer. Ketika bekerja ditempat ini, Larry menciptakan sebuah system database canggih yang dinamakan Oracle. Oracle diciptakan setelah Larry membaca makalah yang ditulis oleh Edgar F Codd berjudul “A Relational Model of data for Large Shared Data Bank”. Atasan Codd di IBM mungkin gagal melihat nilai komersil dari pemikirannya, namun tidak dengan Larry. Jiwa bisnis larry berkata bahwa konsep Structured Query Language (SQL) hasil pemikiran Codd jika dikembangkan dengan tepat akan mendatangkan banyak uang.

Maka pada tahun 1977, bersama dengan CEO Ampex, Robet Miner dan rekannya Ed Oates, Larry mendirikan perusahaan miliknya sendiri dengan nama Software Development Labs. Modal yang digunakan hanya sebesar $2000 USD. Tahun 1979, nama perusahaan ini berganti menjadi Relational Software Incorporation sebelum berubah lagi menjadi Oracle Corporation di tahun 1983.

Perusahaan ini berhasil memenangkan kontrak membangun system manajemen database relational milik Central Intelligent Agency (CIA). Sukses dengan pekerjaan pertamanya, Oracle kebanjiran pesanan. Perusahaan-perusahaan besar macam Wright Patterson Air Force Base dan IBM telah menanti untuk digarap. Nama Oracle pun menanti untuk berkibar.

Pelajaran dari Larry Ellison: Totalitas Adalah Segalanya!

Dengan serangkaian strategy akuisisinya, Larry Ellison berhasil menambah market sharenya dari Oracle. Larry juga pernah menjabat sebagai direktur di Apple Computer Inc, berjasa membawa Oracle menjadi perusahaan software terbesar kedua didunia setelah Microsoft. Ia dikabarkan getol mengobarkan perang menjadi yang pertama. Persaingan keduanya ramai dibicarakan di Silicon Valley.

Larry menolak jika ia selalu dikait-kaitkan dengan ambisi untuk menjatuhkan Microsoft dari puncak.

“Percaya atau tidak, saya menghabiskan sebagian besar waktuku untuk memikirkan rangkaian e-bussiness kami”, server aplikasi kami, server database kami…” ucap Larry meluruskan. Maksudnya, ia tetap tidak terganggu dengan keberadaan pesaingnya itu. Semua hal yang dilakukannya semata untuk kepentingan Oracle. Justru totalitas yang matang ditempa kerasnya kehidupan semacam inilah yang menjadikan Larry Ellison sebagai musuh yang paling diamati oleh Bill Gates.

Sumber:

Jumat, 09 Juni 2017

Optimalkan Bisnis Dengan Penyusunan Business Continuity Plan (BCP)



Business Continuity Planning atau yang biasa disingkat BCP adalah sebuah rencana yang diambil perusahaan untu meneruskan bisnis perusahaan tersebut, jika suatu saat terjadi kekacauan, bencana atau kejadian yang tidak diinginkan yang akan menghambat bahkan menghentikan proses bisnis perusahaan tersebut. BCP merupakan keadaan dimana kondisi bisnis harus dapat terus berjalan pasca terjadinya bencana.

Agar dapat berjalan optimal, BCM perusahaan harus didukung penuh oleh manajemen, stakeholder serta disosialisasikan kepada seluruh lapisan dalam organisasi perusahaan. penerapan BCM berdasarkan standar ISO 27001 mencakup identifikasi resiko, proses manajemen keberlangsungan bisnis serta pengujian berkala untuk memastikan BCM perusahaan selalau dalam kondisi paling mutakhir. Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam pembentukan BCM, berurutan sebagai berikut:

1. Identifikasi Ancaman (Threat Analysis)
Perusahaan yang telah terlebih dahulu melakukan identifikasi terhadap ancaman-ancaman yang dapat mengganggu operasional perusahaan. Dalam tahap identifikasi ini, ancaman dapat dikategorikan menjadi dua kelompok besar, yang pertama yaitu ancaman dari dalam (internal threats), misalnya sabotase dari karyawan, pencurian data dan spionase sedangkan yang kedua adalah ancaman dari luar (external threats), misalnya kebagakaran, gempa bumi serta ancaman cyber. Hal-hal yang terkait dengan internal threats biasanya memiliki sifat yang masih bisa dikendalikan oleh perusahaan, sedangkan external threats bersifat tidak dapat dikensalikan. Perusahaan harus membuat prioritas dan peringkat kemungkinan (likelihood) dari berbagai ancaman tersebut. Dari peringkat ancaman, perusahaan harus membuat beberapa skenario kunci untuk kejadian bencana yang mungkin terjadi.

2. Analisis Dampak Terhadap Bisnis (Business Impact Analysis/BIA)
Selanjutnya perusahaan melakukan identifikasi bagian bisnis yang bersifat kritis terhadap keberlangsungan perusahaan. pendekatan ini biasa dilakukan dengan menggunakan pendekatan resiko (risk based analysis), perusahaan menentukan resiko-resiko terkait pada setiap kegiatan operasional perusahaan, contoh: Resiko operasional, resiko finansial dan resiko kepatuhan. Ditahap ini pula perusahan menentukan waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan layanan TI, disebut dengan Recovery Time Objective (RTO). Selain itu perusahaan juga harus menentukan berapa lama kehilangan data yang dapat diterima atau disebut dengan Recovery Point Object (RTO). Selain itu perusahaan juga harus menentukan berapa lama kehilangan data yang dapat diterima atau disebut Recovery Point Object (RPO).

3. Menyusun Business Continuity Plan (BCP)
Perusahaan membuat strategi pemulihan bencana berdasarkan hasil analisis terhadap bisnis (business Impact Analysis/BIA) serta skenario bencana yang mungkin terjadi. Hal ini mencakup relokasi pegawai inti ke kantor alternatif atau Business Continuity Center (BCC), pengaktifan perangkat cadangan, pemindahan server yang aktif dan lain sebagainya. BCP yang dibuatkan harus dipastikan dapat memenuhi target pemulihan RTO dan RPO, seperti yang telah ditentukan dalam BIA. Terkait

4. Menguji Serta Memperbaharui BCP
Skenario BCP yang telah dibuat harus diuji coba secara berkala. Hal ini dilakukan untuk dapat memastikan bahwa rencana yang disusun dapat mencapai tujuan pemulihan sistem atau layanan yang diharapkan secara efektif. Biasanya ada dua cara untuk melakukan uji coba ini, yaitu pertama adalah menggunakan simulasi kejadian bencana. Uji coba ini menggunakan simulasi data serta kejadian bencana yang seakan-akan kejadian sesungguhnya. Cara kedua adalah dengan menggunakan uji coba secara langsung, yaitu melakukan kegiatan operasional pada satu hari yang dipilih dengan mengaktifkan kondisi bencana.

5. Sosialisasi ke seluruh pegawai
Seluruh pegawai dalam perusahaan harus menerima pelatihan mengenai BCP. Hal ini untuk memastikan bahwa seluruh pegawai mengerti hal-hal yang harus dilakukan dalam keadaan bencana, seperti siapa yang harus dihubungi, apa yang harus dilakukan dalam keadaan darurat, dan lain sebagainya. BCP yang tidak disosialisasikan kepada pegawai hanya akan menjadi dokumen yang kurang memiliki arti.

Bentuk dan lingkup BCM sangat fleksibel dan berbeda antar organisasi, contohnya, bentuk dan lingkup BCM industri perbankan, tidak akan sama dengan industry e-commerce karena core businessnya berbeda, serta contoh lainnya, BCM Learning Management System (LMS) pada Universitas Terbuka, tingkat kritisnya berbeda dengan LMS pada universitas yang masih melakukan kegiatan dengan tatap muka. Namun yang harus dipahami adalah bagaimanapun bentuk dan lingkupnya, BCM tidak hanya berhenti pada satu siklus, harus tetap diperbarui secara berkala dan terus menerus. Hal ini sesuai dengan perubahan bisnis, perubahan infrastruktur TI, serta perubahan paparan ancaman yang ada. Perusahaan harus membuat sebuah tim mandiri yang bertugas untuk memastikan dan mengawasi BCM masih sejalan dengan operasional perusahaan serta mampu menangani permasalahan yang muncul jika terjadi gangguan maupun bencana.

Sumber
Fakhruddin, A. (2015, May 4). Memahami Arti Penting Business Continuity Management (BCM). Retrieved from Tatakelola.co: http://tatakelola.co/manajemen-risiko/memahami-arti-penting-business-continuity-management-bcm/

Ditulis Oleh:
Melisa Budiasih, S.T.
BPM Consultant
Smartpro Solusi

Rabu, 07 Juni 2017

Belajar Hidup Sederhana Dari Miliarder Muda, Mark Zuckerberg



Hampir semua orang mengenal Mark Zuckerberg, dia adalah pencipta situs jejaring sosial yaitu Facebook. Zuckerberg juga adalah salah satu orang terkaya yang paling muda di dunia. Namanya beberapa kali masuk dalam daftar oran g terkaya dunia versi majalah Forbes.

Walaupun bergelimang harta tetapi gaya hidup Mark Zuckerberg ternyata sederhana dan jauh dari kata mewah. Dia pandai mengatur keuangan dan selalu membeli barang yang dibutuhkan saja. Berikut cara hidup hemat Mark Zuckerberg seperti dilansir dari Laruno, Minggu (14/5/2017):

Memakai baju yang nyaman 

Meskipun terkenal dan sering menjadi pembicaraan di berbagai acara, tetapi tampilan miliarder itu tetap santai. Pada beberapa kesempatan Mark Zuckerberg sering terlihat memakai kaos berwarna abu-abu. Menurut Mark Zuckerberg dengan memiliki baju bermodel dan berwarna sama bukan hanya menghemat uang melainkan juga waktu.

Memiliki tempat tinggal yang sederhana 

Dengan tinggal di rumah sederhana, Mark tidak memamerkan harta kekayaannya yang perlimpah dan tetap rendah hati. Selain itu, Mark pun dapat melakukan penghematan pada biaya pemilikan rumah dan pada biaya perawatan rumah.

Dermawan

Sisi Filantropis seorang Mark harus ditiru, walaupun dia bergelimang harta dan hidup sederhana, dia tidak ragu memberi kepada yang membutuhkan. Mark dan istrinya juga membangun suatu organisasi kemanusiaan yang memfokuskan pendidikan dan kesehatan dunia. Walaupun Anda tidak bergelimang harta layaknya Mark, Anda tetap dapat menyumbangkan sedikit kekayaan Anda agar Anda dapat lebih berbahagia dari sisi mental.



Tidak membuang-buang uang

Mark mempunyai prinsip bahwa untuk hidup hemat bukan berarti harus hidup serba kurang, tetapi bagaimana dia mewujudkan apa yang diingankannya. Salah satu contohnya adalah menggelar pernikahan hanya di halaman rumah. Tentu dia sanggup untuk menggelar pernikahan yang jauh lebih mewah di mana pun atau bagaimana pun yang dia inginkan tetapi dia ingin mewujudkan mimpinya menggelar pernikahan di halaman rumahnya.

Setelah menikah, Mark dengan istrinya pun berbula madu ke tempat yang sering dijadikan destinasi bulan madu untuk orang-orang sekitarnya.

Memiliki kendaraan sederhana

Tidak hanya soal pakaian dan tempat tinggal, bahkan kendaraan yang dipilih oleh Mark pun diprioritaskan kenyamanan buka harganya. Tentunya Mark mampu membeli helikopter atau pesawat jet pribadi sekalipun, tetapi dia memilih untuk tetap sederhana menggunakan kendaraan kecil.

Mungkin miliarder lainnya memilih kendaraan setara dengan kelas BMW, Ferrari atau Lamborghini tetapi lain halnya dengan Mark yang memilih untuk mengendarai mobil manual Volkswagen setiap hari ke tempat kerjanya.

Sumber